Sangrajawalinews.my.id – Banda Aceh | Tokoh muda Simeulue dan alumni Prodi ilmu Politik, Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (Fisip) universitas Syiah Kuala Banda Aceh Faji Amin. S.IP menyampaikan apresiasi mendalam terhadap kinerja Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh yang di pimpin oleh Brigjen. Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.S. menunjukkan capaian signifikan dalam upaya pemberantasan narkotika di wilayah Aceh. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, BNNP Aceh berhasil mengungkap sebanyak 65 kilogram narkotika yang berupaya masuk ke daerah Aceh.
Menurut Faji Amin, capaian ini merupakan indikator kuat bahwa BNNP Aceh tengah berada pada jalur yang tepat dalam memperkuat fungsi penindakan sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap peredaran narkotika.
“Keberhasilan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi mencerminkan kerja nyata dalam melindungi masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, dari ancaman serius narkoba,” ujar Faji dalam keterangannya.
Faji menilai, keberhasilan mengungkap 65 kilogram narkotika dalam waktu tiga bulan merupakan pencapaian yang patut diapresiasi, mengingat kompleksitas jaringan peredaran narkotika yang semakin terorganisir dan lintas wilayah.
Ia melihat adanya peningkatan kapasitas kelembagaan BNNP Aceh, baik dari sisi intelijen, koordinasi lintas sektor, maupun ketepatan dalam melakukan operasi penindakan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga berbasis pemetaan risiko dan deteksi dini.
“Ini menunjukkan adanya pendekatan yang lebih sistematis. Penindakan yang dilakukan bukan sekadar respons, tetapi hasil dari kerja intelijen yang matang dan kolaborasi yang solid,” jelasnya.
Lebih lanjut, Faji menyoroti posisi geografis Aceh yang strategis sekaligus rentan terhadap penyelundupan narkotika, terutama melalui jalur laut yang berbatasan langsung dengan perairan internasional.
Kondisi ini menjadikan Aceh sebagai salah satu pintu masuk potensial bagi jaringan narkotika internasional. Oleh karena itu, keberhasilan BNNP Aceh dalam menggagalkan peredaran narkotika dalam jumlah besar dinilai sebagai langkah penting dalam memutus rantai distribusi sejak dari hulu.
“Dengan kondisi geografis yang terbuka, penguatan pengawasan menjadi mutlak. Apa yang dilakukan BNNP Aceh hari ini menunjukkan adanya keseriusan dalam menjaga wilayah dari ancaman tersebut,” ungkapnya.
Meski memberikan apresiasi, Faji Amin menekankan bahwa pemberantasan narkotika tidak dapat hanya mengandalkan penindakan semata. Ia menilai diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif yang mencakup aspek pencegahan, edukasi, serta rehabilitasi bagi pengguna.
Menurutnya, upaya edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, harus diperkuat agar mereka memiliki ketahanan terhadap pengaruh narkotika. Di sisi lain, program rehabilitasi juga perlu ditingkatkan guna memastikan para korban penyalahgunaan dapat kembali produktif di tengah masyarakat.
“Penindakan adalah langkah penting, tetapi pencegahan adalah investasi jangka panjang. Edukasi dan rehabilitasi harus berjalan beriringan agar persoalan narkotika dapat ditangani secara menyeluruh,” tegasnya.
Faji juga berharap capaian yang telah diraih BNNP Aceh dapat dipertahankan dan ditingkatkan melalui inovasi program serta penguatan sinergi antar lembaga.
Ia menilai, konsistensi dalam kinerja menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa upaya pemberantasan narkotika tidak bersifat sesaat, melainkan berkelanjutan.
“Momentum ini harus dijaga. Kinerja yang baik perlu diikuti dengan inovasi dan konsistensi agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Faji Amin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mendukung upaya pemberantasan narkotika. Ia menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama.
Partisipasi masyarakat, menurutnya, dapat diwujudkan melalui peningkatan kewaspadaan, pelaporan terhadap aktivitas mencurigakan, serta keterlibatan dalam program-program pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait.
“Dengan sinergi antara aparat dan masyarakat, saya optimistis Aceh dapat menjadi wilayah yang lebih aman, sehat, dan terbebas dari ancaman narkotika,” tutup Faji Amin.*** (CD)





