Jakarta, 16 Agustus 2026 – Harga Bitcoin (BTC) berada di level US$63.334 pada 14 Agustus 2026. Secara tahunan, harga aset kripto terbesar tersebut tercatat terkoreksi sekitar 45,98%. Meski penurunan terlihat cukup dalam, kondisi ini belum tentu menandakan Bitcoin telah memasuki tren bearish struktural.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan koreksi Bitcoin perlu dilihat dalam konteks pergerakan harga sebelumnya. Penurunan tahunan yang besar terjadi karena basis pembanding pada tahun lalu sangat tinggi, ketika BTC sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$120.000.
“Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Secara teknikal, ini bukan semata-mata BTC sedang dalam tren penurunan struktural, melainkan proses normalisasi setelah euforia harga yang sangat tinggi tahun lalu,” ujar Yudho dalam keterangannya, Minggu (16/8).
Menurutnya, koreksi setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi bukan merupakan fenomena baru. Secara historis, BTC kerap mengalami fase koreksi dan konsolidasi sebelum menemukan level keseimbangan harga berikutnya.
Saat ini, area US$62.000–US$65.000 menjadi salah satu zona penting yang perlu diperhatikan. Kemampuan Bitcoin untuk bertahan di area tersebut menunjukkan masih adanya permintaan yang dapat menahan tekanan jual.
“Jadi perhatian saya bukan besaran koreksinya semata, tapi apakah BTC masih mampu bertahan di atas level-level support psikologis penting,” katanya.
Bitcoin Berpotensi Tembus US$150.000
Memasuki paruh kedua 2026, proyeksi harga Bitcoin dari sejumlah analis dan lembaga keuangan global masih menunjukkan rentang yang cukup lebar. Hal ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar kripto.
Dalam skenario konservatif, Bitcoin diproyeksikan berada di kisaran US$45.000–US$90.000. Sementara itu, skenario optimistis menempatkan harga BTC di rentang US$95.000–US$120.000.
Adapun dalam skenario paling bullish, BTC berpotensi kembali menguat hingga sekitar US$150.000. Meski demikian, Yudho tidak ingin menjadikan satu angka sebagai patokan atau prediksi harga pasti Bitcoin.
“Saya pribadi tidak ingin memberi angka tunggal sebagai ‘prediksi’, karena itu bisa menyesatkan, apalagi mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sangat volatil dan sering bergerak di luar ekspektasi mayoritas analis,” jelasnya.
Menurut Yudho, investor sebaiknya lebih fokus pada sejumlah indikator yang dapat menentukan arah Bitcoin hingga akhir tahun.
Salah satunya adalah arus dana masuk dan keluar dari ETF Bitcoin spot. Jika aliran dana institusional kembali mencatat inflow secara konsisten, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya minat investor terhadap BTC.
Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga menjadi katalis penting. Pelonggaran kebijakan moneter berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sebaliknya, jika Bitcoin gagal mempertahankan area support di kisaran US$60.000, tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang untuk koreksi lebih lanjut.
ETF, The Fed, Makroekonomi, dan Geopolitik Jadi Penentu
Yudho melihat setidaknya empat faktor utama yang dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin, yakni kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF BTC spot, kondisi makroekonomi dan geopolitik global, serta faktor teknikal dan siklus pasar Bitcoin.
Perubahan data inflasi Amerika Serikat, pergerakan yield obligasi AS, hingga perkembangan konflik dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi tingkat toleransi risiko investor global.
Di sisi lain, Bitcoin masih sangat sensitif terhadap aktivitas investor institusional. Perlambatan arus masuk ETF BTC, misalnya, dapat menunjukkan bahwa sebagian investor besar masih mengambil sikap wait and see daripada melakukan akumulasi secara agresif.
Dari sisi domestik, Yudho menilai Indonesia bukan penentu utama harga Bitcoin karena pembentukan harga BTC tetap berlangsung di pasar global.
Meski demikian, kondisi dalam negeri dapat memengaruhi respons investor Indonesia terhadap volatilitas pasar. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan regulasi aset kripto, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta semakin beragamnya produk investasi aset digital di pasar domestik.
Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian karena harga Bitcoin di Indonesia merupakan hasil konversi harga BTC dalam dolar AS ke rupiah. Artinya, pelemahan rupiah dapat membuat harga BTC dalam denominasi rupiah meningkat meskipun dalam dolar AS relatif tidak berubah.
Pasar Waspadai BI dan The Fed Pekan Depan
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus serta rilis notulen FOMC pada 19 Agustus. Kedua agenda tersebut berlangsung berdekatan dan berpotensi meningkatkan volatilitas rupiah maupun Bitcoin.
Di dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Rupiah sempat menguat ke Rp17.750 per dolar AS pada 10 Agustus sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.855–Rp17.881. Sementara itu, IHSG naik ke level 6.373,85 pada 12 Agustus.
“Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan kombinasi kebijakan BI dan arah komunikasi The Fed. Dua katalis moneter besar yang muncul hampir bersamaan dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasilnya berbeda dari ekspektasi,” kata Yudho.
Yudho menilai Bitcoin masih perlu menembus area US$65.300 secara meyakinkan untuk membuka ruang penguatan berikutnya. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level US$64.000 berpotensi kembali meningkatkan tekanan terhadap harga BTC.
Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan literasi aset digital, FLOQ juga menyediakan FLOQ Academy yang dapat diakses secara gratis untuk mempelajari pergerakan pasar, investasi aset kripto, blockchain, hingga perkembangan Web3 secara lebih mudah.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES



