HASHIM DORONG PENGGUNAAN TEKNOLOGI PENANGKAP KARBON DI PABRIK

JAKARTA — Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mendorong penerapan teknologi penangkap karbon yang diklaim mampu memangkas emisi pabrik hingga 95 persen, dari uji coba di PT Petrokimia Gresik hingga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah itu berdiri di atas fondasi kebijakan industri hijau yang sebelumnya telah disiapkan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

 

“Ternyata ada teknologi dari Jepang, juga dari Taiwan dan sebagainya, yang dipakai di Petrokimia Gresik,” kata Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Selain menekan emisi, teknologi itu menghasilkan produk sampingan berupa soda abu, bahan yang selama ini banyak diimpor.

 

Menurut Hashim, pemerintah tengah menyusun skema insentif bagi perusahaan yang memasang alat tersebut. Ia menilai teknologi yang sama dapat dipakai di PLTU batu bara. “Semua stasiun listrik, pembangkit listrik yang memakai batu bara bisa hidup terus-menerus,” ujarnya.

 

Visi: tumbuh tanpa menambah emisi

Sikap Hashim terhadap industri hijau pernah disampaikan pada Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 yang diprakarsai oleh Agus Gumiwang saat menjabat Menperin. AIGIS sendiri merupakan forum tahunan Kemenperin atas prakarsa Agus Gumiwang untuk mempercepat transformasi industri nasional menuju praktik rendah karbon. Hal ini bertujuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pengurangan emisi karbon di sektor industri, sekaligus membangun ekosistem industri hijau yang lebih tangguh dan berdaya saing. Hashim menegaskan target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 tidak boleh dibayar dengan kenaikan emisi.   

 

“Peningkatan pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan komitmen penurunan emisi karbon, bukan sebaliknya,” kata Hashim saat itu. Ia juga mendorong pemakaian “teknologi tepat guna, teknologi baru dan teknologi relatif murah” agar transisi tidak membebani pelaku industri, yang ia sebut sebagai pemberi kerja bagi banyak rakyat Indonesia.

 

Di sisi pasokan energi, Hashim memaparkan target 100 gigawatt pembangkit tenaga surya dan 7 gigawatt pembangkit listrik tenaga nuklir dalam International Indonesia Sustainability Forum, Selasa (6/10/2026). Ia juga mendorong biofuel sebagai diversifikasi, tanpa harus menghentikan PLTU batu bara secara mendadak. Pasokan listrik bersih ini menjadi prasyarat dekarbonisasi pabrik.

 

Aktualisasi Peta Jalan Dekarbonisasi

Program yang kini didorong Hashim bertumpu pada kerangka yang dibangun Kemenperin dalam beberapa tahun terakhir. Agus Gumiwang telah memutuskan untuk mempercepat pencapaian target net zero emission (NZE) sektor manufaktur pada 2050, satu dekade lebih cepat dibanding target nasional 2060.

 

“Dekarbonisasi industri bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia menjadi pemimpin regional industri rendah karbon, “ujar Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa.

 

Industri hijau sebagai bagian dari ekonomi sirkular diproyeksikan menciptakan nilai tambah ekonomi Rp700 triliun hingga Rp1 kuadriliun pada 2030, menambah 0,4 sampai 0,7 poin persentase pertumbuhan ekonomi per tahun, dan membuka 3,5 juta hingga 5 juta lapangan kerja.  

 

Target NZE 2050 dijabarkan dalam peta jalan dekarbonisasi sembilan subsektor penyumbang emisi terbesar: semen, pupuk amonia, logam, pulp dan kertas, kimia, tekstil, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta otomotif. Peta jalan tersebut memuat enam pilar, mulai dari efisiensi energi dan material, substitusi bahan bakar, elektrifikasi dan energi terbarukan, hingga penangkapan karbon. Perusahaan di sembilan subsektor wajib melaporkan emisi gas rumah kaca secara berkala melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

 

Target NZE 2050, peta jalan sembilan subsektor, dan kewajiban pelaporan emisi adalah kerangka yang jarang dimiliki negara berkembang. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar kerangka itu tidak berhenti di atas kertas.

 

Di sisi regulasi, sejak tahun 2020 hingga sekarang, Kemenperin telah menerbitkan 35 peraturan menteri terkait industri hijau dan 62 Standar Industri Hijau, 50 di antaranya terbit pada masa Agus Gumiwang. Standar kawasan industri hijau diatur melalui Permenperin Nomor 26 Tahun 2025. Pada Juni 2026, lembaga validasi dan verifikasi emisi milik Kemenperin, BBSPJIA, memperoleh akreditasi Komite Akreditasi Nasional dan menerbitkan pernyataan verifikasi emisi pertamanya.

 

Agus Gumiwang menjabarkan visi pengurangan emisi udara dan peta jalan dekarbonisasi dengan membuat pilot project Carbon Capture and Utilization (CCU) bekerja sama dengan penyedia teknologi CCU dari UWIN Jepang dan Taiwan. Pilot project dilaksanakan di PT. Petrokimia Gresik (PKG) yang pada umumnya sektor petrokimia memberikan kontribusi emisi karbon dioksida yang tinggi.

 

Penangkap karbon yang kini dipromosikan Hashim juga berawal dari proyek percontohan pada masa Agus Gumiwang. Pada November 2025, Kemenperin melaporkan hasil uji coba enam bulan di Petrokimia Gresik yang dapat menurunkan emisi karbon dioksida hingga lebih dari 95 persen. Angka tersebut berdasarkan hasil uji coba yang diverifikasi oleh Sucofindo sebagai surveyor independen.

 

Di samping itu, dengan teknologi ini Petrokimia Gresik akan mampu menghasilkan produk samping (by product) berupa soda abu (soda ash) sebesar satu juta ton per tahun untuk mensubstitusi seluruh impor soda ash setiap tahunnya. Ini juga memberikan tambahan pendapatan bagi perusahaan sebesar sekitar USD 200 juta atau Rp. 3,6 Triliun per tahun. Teknologi ini juga dapat menghasilkan produk samping berupa soda kue (baking soda) yang selama ini masih diimpor. Solusi teknologi ini dapat diterapkan di industri-industri penghasil emisi karbon dioksida seperti industri semen, kimia, baja, keramik, dan lain-lain.

 

Teknologi ini juga dapat diterapkan untuk mengurangi polusi udara  yang disebabkan oleh hasil pembakaran batu bara terutama di PLTU dan industri yang menggunakan boiler. Dengan demikian persoalan polusi udara (emisi Particle Matters-PM 2.5) yang berasal dari PLTU, pabrik semen, dan pabrik baja dapat diatasi tanpa perlu menghentikan operasinya.

 

Penerapan CCU di Indonesia selain dapat menurunkan emisi karbon dioksida dan polusi udara serta menghasilkan produk samping berupa soda abu dan soda kue, dalam prosesnya terjadi penurunan emisi karbon dioksida yang akan menjadi potensi pendapatan bagi industri yang menerapkan teknologi CCU melalui mekanisme perdagangan karbon (carbon trading), baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan demikian, akan menggerakkan perdagangan karbon di Indonesia dan sekaligus menguntungkan industri karena produknya akan menjadi produk hijau yang akan meningkatkan daya saing ekspor industri. 

 

 

 

GISCO dan pembiayaan transisi

Inisiasi lain yang telah direalisasikan oleh Agus Gumiwang adalah Green Industry Service Company (GISCO), ekosistem pembiayaan yang menghubungkan industri, penyedia teknologi, dan lembaga keuangan. Bank Dunia menyatakan dukungan berupa pendampingan, komitmen pinjaman lunak, dan hibah. Inisiatif ini telah masuk Blue Book Bappenas dan ditargetkan meluncur pada semester II-2026.  

 

“GISCO ini adalah jembatan antara lembaga pembiayaan, penyedia teknologi, dan pelaku industri sebagai upaya transformasi industri hijau dengan pembiayaan murah,” jelas Agus. Hal ini akan mampu menghilangkan keengganan pelaku industri untuk melakukan investasi dalam transformasi hijau dengan alasan biaya tinggi.

 

Tekanan dari luar membuat peta jalan industri hijau tersebut di atas mendesak untuk dijalankan. Hal ini akan dapat meningkatkan daya saing industri nasional dalam rangka mengantisipasi berlakunya Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa tahun 2026 yang mensyaratkan seluruh produk yang masuk ke Eropa harus memenuhi aspek-aspek lingkungan tertentu khususnya terkait dengan jejak karbon.

 

“Potensi kewajiban karbon terhadap produk Indonesia diperkirakan mencapai USD 208,1 juta dan dapat meningkat menjadi USD 288,4 juta apabila cakupannya diperluas,” ujar Fabby. Ia menjelaskan bahwa emisi sektor industri mencapai sekitar 382 juta ton CO2 pada 2023, atau 32,9 persen emisi nasional sehingga dekarbonisasi industri juga semakin menentukan daya saing perdagangan.

 

Atas upaya dan prakarsa transformasi hijau hingga 2025 lebih dari 1.100 perusahaan manufaktur telah menerima Penghargaan Industri Hijau, dan untuk itu Agus Gumiwang menerima penghargaan sebagai Tokoh Akselerator Transformasi Industri Hijau dalam Detikcom Awards 2025. 

\ Get the latest news /

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

News Feed